Friday, August 18, 2006

Kala Ku TersesaT di Jakarta

Jarum jam yang menunjukkan pukul 11 malam sepertinya sudah tak dihiraukan oleh orang-orang yang berserakan di sepanjang jalan ini. Gelapnya malam yang dicahayai sedikit lampu temaram seperti halnya “lighting” pada film-film atau sinetron di layar kaca. Ya, orang-orang itu sedang memainkan perannya, menjadi pemeran pembantu alias para figuran malam. Aku perhatikan mereka satu per satu, oh .. kebanyakan wanita, tampaknya mereka sudah sangat piawai memainkan perannya masing-masing.

Aku dekati mereka, lalu aku tanyai salah satu di antara mereka, “Apa yang kau lakukan di sini ?” Dia menatapku dengan sinis, “aku tidak munafik, aku punya roda !”, tukasnya. Lalu aku bertanya lagi padanya, “apa yang terjadi dengan rodamu, hingga kau berada di sini ?” Lantas dia membalas, “rodaku harus berputar, jadi aku berada di sini.!” Aku membatin, lalu kulontarkan pertanyaan lagi, “kenapa harus di tempat ini?” Dia langsung membalas, “Hei, apa kau pura-pura buta, roda orang lain sibuk berputar di siang hari ke sana kemari, sementara mereka tak menyisakan jalan bagi rodaku untuk bergerak, apalagi berputar!!”

Terpecut hatiku mendengar jawaban wanita tadi. Sungguh malang nasib mereka. Lantaran pergulatan hidup yang menyebabkan rodanya berputar, membawa beban domestik di sebuah tempat penuh laknat, markas maksiat. Setiap malam mereka jajakan dirinya demi memuaskan nafsu manusia hina, pria berakhlak bejat. Dengan dalih sibuk proyek dan rapat luar kota, istri dan anak ditinggalkan dalam sebuah rumah mewah berkapasitas barang-barang manja, sementara “sang pencari nafkah utama” ini asyik bergurau mengobral cinta dengan wanita lain. Padahal cintanya sudah kadung terkubur mati. Astaghfirullah, begitu rendahnya kah?

“Wanita itu sebenarnya makhluk apa ?” tanya pria bangsa Eropa. “Mereka adalah iblis yang ditampilkan dalam wujud manusia”, jawab pria yang lainnya. Kalau memang begitu, lalu bagaimana dengan standarisasi yang diberikan oleh junjungan kita yang mulia, Rasulullah empat belas abad silam, jauh sebelum para pria Eropa itu berdialog panjang tanpa makna ? Tak kan memuliakan wanita kecuali seorang yang mulia dan tak kan menghinakan mereka, kecuali manusia yang hina pula!!

Aku ingin tahu jawaban para penguasa di negeri ini. Adakah yang peduli dengan nasib “para figuran malam itu”? Yang siang harinya malu menampakkan wajahnya, namun ketika malam tiba mereka seperti keluar dari sarangnya, maaf, menyediakan “kotak amal” sambil membuka jengkal demi jengkal kehormatan dirinya yang seharusnya mereka tutup rapat. Untuk apa? Ya.. untuk hidup, bertahan hidup. Ah… aku lupa, para pengusa sedang sibuk rupanya, saat ini mereka tengah mengurusi hal-hal yang lain. Ada anggaran dana sekian M yang harus mereka habiskan dalam akhir tahun ini, proyek apa lagi yang harus dibuat. Apa lagi yang harus di “mark up” ? Mall pusat konsumerisme paling mutakhir atau rumah mewah bernilai ratusan juta .

Ada lagi kampanye anti AIDS, dengan slogan menekankan seks aman ! Seks aman tapi bebas, begitu kukira. Padahal yang mereka gaungkan itu adalah “kau boleh lakukan, kami punya pengaman, pencegah kehamilan”. Kalau begitu apanya yang aman, seksnya yang aman ? Tetapi sadarkah bahwa pelakunya sebenarnya tidak akan aman karena di balik itu semua ada murka Allah menghadang ? Sungguh jangan sekali-kali pernah kau merasa aman dengan murka-Nya!!

Masih pada malam yang sama, menapaki jalan-jalan kota, beberapa pria nampak berdiri dan berjaga-jaga di sebuah bilangan Jakarta Pusat. Aku hentikan langkahku, ketika sebuah mobil bermerk jetset melintas dan menepi, mendekati para pria tadi. Mobil mewah itu ditumpangi sepasang muda-mudi belia yang sebaya umurnya. Sepertinya mereka tersesat Pemuda itu membuka kaca mobilnya, lalu bertanya pada pria tadi sebentar, lantas kemudian dia keluarkan beberapa ribuan. Aneh, kenapa mesti memberi mereka uang ? Lalu mobil itu pun melaju perlahan menuju suatu tempat yang ditunjukan oleh para pria itu. Selang beberapa waktu, dari arah yang berbeda, datang lagi mobil yang tak kalah licinnya, juga menghampiri para pria tadi. Penumpangnya melakukan hal yang sama. Aku semakin heran, sepertinya ada sesuatu yang aneh, janggal.

Aku beranikan diriku mendekati para pria itu untuk mendengarkan perbincangan mereka. Dan dadaku pun tersentak, astaghfirullah….Ya Allah, mereka itu juga sama seperti para wanita tadi, para “figuran malam”, yang berprofesi sebagai para calo penunjuk jalan bagi “orang-orang yang tersesat tadi’. Mereka menjadikan malam sebagai kesempatan untuk mengais rezeki dari orang-orang yang ingin mengunjungi sebuah tempat. Lalu yang menjadi pertanyaan, tempat apakah itu ? Mengapa harus malam hari dikunjungi ? Teka-teki ini harus segera dipecahkan !!

Kedua kakiku pun akhirnya tak bisa kucegah untuk terus beranjak, bergerak menyusuri alur mobil para pemuda-pemudi belia tadi. Hingga aku temukan sebuah jawaban, kenyataan yang sekian lama tersembunyi dan tertutupi oleh hingar bingar dan deru debu kepulan asap kota metropolitan Jakarta ini. Bahwa ternyata tempat yang dikunjungi oleh pemuda-pemudi bermobil jetset itu adalah sebuah rumah yang lumayan cukup besar dan megah. Sepintas memang rumah itu seperti layaknya rumah –rumah lain yang berjejer di sebelah kanan dan kirinya. Tidak menunjukan aktivitas yang berarti pada malam ini. Namun, siapa sangka, siapa yang mengira, sungguh tak ada yang menduga bahwa rumah itu sebenarnya adalah “markas pembunuhan berencana”, pembunuhan janin-janin tak berdosa yang tak diberikan hak hidup oleh darah daging mereka sendiri.Pelanggaran Hak Asasi Manusia kelas tinggi.Praktik Aborsi !!

Ya Allah…. aku harus berkata apalagi ? Setan macam apakah yang menuntun pemuda-pemudi tadi berlaku hina dan keji ? Apa yang ada di dalam benak mereka, kenikmatan sesaat ataukah hanya menuruti keinginan syahwat yang begitu mendera ? Ekspresi ilegal di ujung cinta sepasang insan manusia? Lalu, kalau sudah begitu, apakah mereka masih punya cinta ? Mengapa saling mencintai tetapi janin hasil “ekspresi cinta” itu yang harus dipertaruhkan demi cinta itu sendiri ? Mengapa ? Mengapa ? Ketahuilah, mereka sesungguhnya tidak punya cinta !! Cinta mereka sudah terkubur mati!!

Ada kenyataan lain tak bisa dipungkiri, berikut ini kisah tuan berdasi. Selamat pagi tuan, ada kesibukan apa hari ini ? “Oh.. tentu kau tahu, aku sibuk, sangat sibuk, aku harus memimpin perusahaan ini dengan kerja keras”, begitu jawaban tuan berdasi. “Aku harus memenangkan sejumlah proyek”. Dia tersenyum puas…. lalu tertawa meledak ha…ha.. ha… Aku mengernyit, tuan berdasi, kau tak perlu melanjutkan, aku sudah tahu jalan ceritanya. Kau ini memang sibuk, sangat sibuk, mengisi hari demi hari dengan harapan kau dapatkan segunung perhiasan dan intan duniawi. Aku juga tahu bahwa kesibukanmu sudah sangat tak bisa kau tinggalkan. Menumpuk, mengumpulkan dan menyimpan harta curian, sibuk korupsi sudah jadi kebiasaan.

Kemudian, kau pulang menemui istri dan anak-anakmu, mencekoki mereka dengan makanan dan minuman yang kau beli dari uang haram. Kau biarkan makanan dan minuman itu masuk menjalari kerongkongan dan perut keluargamu. Lantas… kau tak pedulikan mereka berlaku semaunya, jauh dari nilai nilai kebaikan. Istrimu yang setiap hari berdialog dengan dirinya sendiri di depan cermin. Sambil mendempuli “wajah kelamnya” dengan seperangkat kosmetika, lalu tersenyum sambil berkata , “hari ini akulah yang paling cantik”. Juga ada aktivitas yang tak kalah serunya, belanja super “wah” yang tak bisa dicegah karena sudah menjadi hobinya, atau hanya sekedar berkumpul disebuah sanggar senam bersama ibu-ibu lainnya yang “tidak punya pekerjaan” kecuali melenggangkan, melenturkan, melemaskan tubuh mereka seiring dengan gerakan musik dan bimbingan instruktur mereka Ya Allah, padahal tubuh mereka itu sangat demikian kaku untuk sekedar berdiri, ruku’ dan sujud bersimpuh kepada-Mu !!

Tuan berdasi, apa yang terjadi dengan anak-anak manjamu ? Kau juga tak hiraukan mereka ketika bahaya seks bebas mengintai, sementara angan –angan semu semakin menenggelamkan mereka dengan janji janji surga yang ditampilkan di layar televisi. Tontonan murahan, jauh dari nilai edukasi. Lalu di luar sana, komunitas “edan” menghampiri, jarum suntik dipakai silih berganti. Narkoba jadi candu dan sumber energi sehari – hari. Astaghfirullah, tuan berdasi, cintakah kau pada mereka ? Cintakah ? Kau tak bisa menjawab pertanyaanku bukan ? Aku tahu bahwa sesungguhnya kau tak mencintai mereka, karena sejatinya cintamu sudah kadung terkubur mati !!

Sekarang para penguasa…. kumohon padamu wahai para penguasa. Rakyatmu ini sudah terjatuh, jatuh dan jatuh lagi. Namun rakyatmu bukanlah terjatuh di atas jerami, melainkan jatuh di atas duri yang semakin dalam semakin tajam. Lihatlah dihadapanmu, data-data matematis dibuat untuk dijadikan informasi. “Manusia tanpa ladang rezeki”, para pengangguran melepas penat di rumah, maupun di jalan –jalan, sambil hilir mudik berusaha mencari sesuap nasi. Ada yang bimbang setengah hati, dan penuh kekhawatiran bagaimana nanti, dan akhirnya pun harus berakhir di bui karena membunuh dan mencuri. Adegan menumpahkan darah pun terjadi, untuk sebuah arogansi. Sementara para jawara-jawara korupsi berkeliaran bebas meluaskan ekspansi.

Ya Allah, aku tidak bisa memicingkan sebelah mataku hingga detik ini, aku juga tidak bisa begitu saja menyalahkan ketika kusaksikan bocah-bocah tirus itu harus rela disuapi oleh makanan apa adanya, sementara perut mereka semakin membuncit dan sorot mata semakin kuyu lantaran kurang gizi. Allah, duhai Allah…tak adakah re-generasi manusia tegas tapi lembut sepeduli Sayyidina Umar bin Khattab, yang membuktikan kesungguhan cintanya, rela merondai rakyatnya setiap malam, kemudian serta merta pergi ke gudang logistik negara untuk memanggul sendiri bahan makanan yang akan beliau serahkan untuk rakyatnya yang menderita kelaparan. Adakah sosok pemimpin yang seagung beliau ? Yang siangnya sibuk membangun negeri dan malamnya terjaga dari tidurnya karena khawatir akan keadaan rakyatnya. “Bagaimana aku bisa tidur, bagaimana, aku takut akan murka-Nya jika aku tidak bisa menjalankan tanggung jawab ini”, tegas beliau suatu hari.

Sekali lagi aku bertanya, adakah re-generasi ? Adakah yang cintanya sebesar pengorbanan beliau ? Lagi lagi jawabannya, tidak !! Cinta mereka sudah terkubur mati !!

Akhirnya aku harus mengakui bahwa semua ini, ya semua kenyataan yang kutemui adalah kumpulan dari sebuah makna yang semakin membuncah dan menggunung tinggi. Makna kezhaliman, perilaku manusia yang umum terjadi sepanjang manusia hidup di muka bumi. Bahwa apa yang dikhawatirkan para malaikat ketika mengajukan #“objection” kepada Allah Azza wa Jalla, mengenai berita akan diciptakannya manusia sebagai khalifah di muka bumi memang akhirnya menjadi kenyataan.

* “Mengapa Engkau hendak menjadikan seorang (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau ?”

Dan Allah pun menjawab keberatan para malaikat dengan mengatakan, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

Aku tahu, semestinya kisah cinta diliputi oleh hal-hal yang menyenangkan jiwamu, melegakan dadamu, penuh syahdu lautan rindu. Namun, aku tidak bisa membalut kisah ini dengan keadaan yang serba nikmat itu. Karena yang ada dihadapanku semuanya adalah bukan cinta yang sesungguhnya, bukan cinta yang murni lahir dari Sang Pemilik Cinta. Cinta yang sebenarnya sudah mati, cintanya sudah terkubur mati !!

Ah… aku belum bisa bernapas lega, rona-rona kehidupan terus bergulir. Para figuran-figuran masih harus melakoni peran dunianya masing-masing. Sementara Pemeran Utama ini terus melangkah, menapaki jalan, menyusuri lorong demi lorong, mencari sekelumit kisah cinta malang, untuk sebuah episode, episode menggali cinta yang terkubur mati. Sebelum kutuntaskan, bolehkah aku bertanya, adakah ruang di hatimu untuk sebuah cinta ? Ataukah cintamu juga sudah terkubur mati ?

Maafkan aku, aku bukanlah siapa-siapa, hanya seorang pemeran utama dalam episode cinta ini.

EmaK yang Kurindu

“kulayangkan pandangku melalui kaca jendela

dari tempatku bersandar seiring laju kereta

membawaku melintasi tempat-tempat yang indah

membuat hidupku jadi penuh riuh dan berwarna

kulepaskan rinduku setelah aku kembali pulang…” –padi,…g tau judulnya ^ ^

Sepanjang Jakarta-Madiun, Jatinegara-Stasiun Madiun...yang ada di kepala hanya Emak yang kurindu.

Yang wajahnya selalu kuingat. Yang tiap wajah punya ruang di dalam hatiku. Yang wajahnya punya kemiripan bersamaku. Setiap wajah selalu punya sesuatu untuk dibagi bersamaku. Yang tiap wajah selalu kurindu. Beliaulah yang kurindu.

Yang smsnya selalu kutunggu. Yang smsnya selalu mebuatku tersenyum. Yang isi smsnya terkdang membuatku tertawa hingga terjengkang. Yang smsnya selalu membuatku semakin merindukan Emak. Emaklah yang kurindu.

Yang suaranya selalu bergema di telingaku. Yang telponnya selalu kutunggu tiap malam. Yang tiap kali bicara denganku selalu meneduhkan hatiku yang bagai riam. Emaklah yang kurindu.

Yang ketiadannya membuatku sepi, sepi yang mengiris hingga ke ulu hati. Yang rasa sepinya selalu membuatku menangis di tiap kali sujud. Yang dalam tiap kali tangis, nama Emaklah yang terucap dan doa Robitoh kupanjatkan. Emaklah yang kurindu.

Yang tiap kebaikannya selalu kukenang. Yang tiap amarahnya selalu menyadarkan. Yang doa nya selalu mengiringku berjalan. Yang selalu ada maaf setiap kali aku salah. Emak adalah orang yang kurindu.

Yang selalu temaniku di tiap langkahku di jalan-jalan yang asing. Yang selalu meramaikan hidupku yang terkadang sendiri. Yang selalu bercerita tentang cinta. Yang selalu membuatku bahagia. Emaklah yang kurindu

Yang selalu ada di hati dan takkan pernah mati. Yang tiap kejadian bersama Emak akan selalu abadi. Yang tak pernah benci walau sudah kusakiti. Yang siap setiap saat tiap kali kumencari. Yang mengajariku tentang cinta yang hakiki. Emak sangat kurindu.

Yang mendukungku tiap kali aku mulai lompatan besar. Yang menyokongku dengan doa, cinta dan kasih sayang. Yang menggandengku di masa-masa gelap, dan melepasku kala aku siap. Yang menangkapku tiap kali aku jatuh. Yang mengobatiku tiap kali aku sakit. Yang memelukku tiap kali aku menangis. Sungguh, Emak yang kurindu.

Yang menertawaiku tiap kali aku melakukan hal-hal bodoh. Yang bercanda bersamaku. Yang merasakan apa yang kurasa. Yang ikut menangis bila aku menangis, yang ikut bahagia tiap kali aku menang. Yang menjadi tempatku mengadu tiap kali aku kalah. Yang dengan seluruh tenaga akan mendorongku untuk kembali berjuang. Beliau itulah yang kurindu.

Yang seiring sejalan bersamaku. Yang setia menemaniku mengarungi hidup. Yang menegurku tiap aku silap. Yang banyak mengajariku hal-hal yang berguna. Yang selalu menegarkanku. Yang selalu menjagaku dari segala yang mungkin menyakitiku. Yang selalu melindungiku selama aku tumbuh. Yang membuatkanku benteng penuh cinta agar kudapat tumbuh dan hidup dengan nyaman dan aman. Emaklah yang kurindu.

Yang akan kuberikan terbaik dari yang kumiliki. Yang akan selalu kubagi apa yang kupunya. Yang seluruh cinta dan rasa sayangku kuberi untuk mereka. Yang ingin kulindungi dan selalu kujaga. Yang ingin selalu kubuat bahagia, tersenyum dan tertawa. Yang ingin selalu kuiringi. Yang akan kuhibur tiap takut mencekam. Aku merindukan Emak.

Di sepanjang rel ini aku tersenyum. Senyum penuh bahagia karena tahu sebentar lagi akan bertemu dengan Ibu yang kurindu, kusayang dan kucinta. Di tempatku tumbuh besar yang kusebut rumah. tempatku kembali pulang...-wa



BangunKart@ -- Kala Aku PulanG 2006

Di Kala Aku Ragu Tentang DIANA

Ya Allah...
Seandainya telah Engkau catatkan
dia akan mejadi teman menapaki hidup
Satukanlah hatinya dengan hatiku
Titipkanlah kebahagiaan diantara kami
Agar kemesraan itu abadi
Dan ya Allah... ya Tuhanku yang Maha Mengasihi
Seiringkanlah kami melayari hidup ini
Ke tepian yang sejahtera dan abadi

Tetapi ya Allah...
Seandainya telah Engkau takdirkan...
...Dia bukan milikku
Bawalah ia jauh dari pandanganku
Luputkanlah ia dari ingatanku
Ambillah kebahagiaan ketika dia ada disisiku

Dan peliharalah aku dari kekecewaan
Serta ya Allah ya Tuhanku yang Maha Mengerti...
Berikanlah aku kekuatan
Melontar bayangannya jauh ke dada langit
Hilang bersama senja nan merah
Agarku bisa berbahagia walaupun tanpa bersama dengannya

Dan ya Allah yang tercinta...
Gantikanlah yang telah hilang
Tumbuhkanlah kembali yang telah patah
Walaupun tidak sama dengan dirinya....

Ya Allah ya Tuhanku...
Pasrahkanlah aku dengan takdirMu
Sesungguhnya apa yang telah Engkau takdirkan
Adalah yang terbaik buatku
Karena Engkau Maha Mengetahui
Segala yang terbaik buat hambaMu ini

Ya Allah...
Cukuplah Engkau saja yang menjadi pemeliharaku
Di dunia dan di akhirat
Dengarlah rintihan dari hambaMu yang daif ini

----------------------------------------
Jangan Engkau biarkan aku sendirian
Di dunia ini maupun di akhirat
----------------------------------------

Ada Apa denganmu Perempuanku?

Tidakkah kau lihat langit begitu cerah? Tidakkah kau rasakan udara yang berhembus perlahan, sungguh segar dan membuat nyaman. Bukankah kau selalu jatuh cinta pada pagi yang hangat? Rasakan, pagi ini matahari pun mengajakmu kembali dalam pelukannya yang hangat, burung-burung bernyanyi riuh, seakan rindu akan senandungmu. Tapi, mengapa kulihat kabut dimatamu?

Duh, seandainya saja kau membutuhkan tempat untuk berbagi, mengapa tidak kau percayai aku? Berbagilah denganku, jangan ragu untuk berbagi duka itu, jangan sungkan untuk membagi nestapa itu.

Perempuanku, aku ingin melihatmu tersenyum, aku ingin mendengarmu tertawa. Aku ingin melihat kau bercanda kembali seperti hari-hari lalu yang pernah terlewati. Tersenyumlah padaku, tertawalah bersamaku, bercandalah denganku, karena luka itu akan segera berlalu.

Bukankah setiap kita tak pernah luput dari salah dan khilaf, lalu mengapa kau salahkan diri atas semua duka yang kini singgah dalam kehidupanmu? Tak ada gunanya untuk bersikap seperti itu terus menerus, berjuanglah untuk bangkit. Ia tahu jika kau menyesal, Ia paham kau merasa berdosa, dan kau pun tahu bahwa Ia Maha Pengampun.

Percayalah, Ia sangat menyayangimu, seperti ia menyayangi yang lainnya. Jangan merasa diperlakukan tidak adil, jangan merasa hina, dirimu adalah pribadi yang mandiri yang tidak bisa disamakan dengan orang lain. Kau mungkin tidak memiliki kecantikan, mungkin juga tidak punya kepandaian, atau bahkan kau mungkin tidak berharta, bisa juga kau tidak bergelar apapun, tapi bukankah kau selalu berusaha untuk mencintaiNya, kau selalu belajar agar selalu dekat denganNya?

Aku tahu kau tak pernah berhenti mengingatNya, dalam setiap napas selalu kau sebut namaNya. Adakah yang lebih penting dari mencintaiNya dengan sungguh-sungguh? Adakah yang lebih penting dari mendapatkan cintaNya?

Karena itu perempuanku, saat hatimu terluka, atau saat hidupmu terasa sempit, aku tahu kau mengerti bagaimana menghadapi luka, bagaimana cara menyikapi kesempitan, meski saat ini kau merasa terpuruk, merasa sendiri, merasa tak ada yang peduli, tak ingatkah kau? Bahwa Ia selalu bersamamu.

Ayolah perempuanku, saatnya kini untuk bangkit, untuk berjuang melawan kesempitan, saatnya kembali tersenyum ketika pagi tiba, saatnya kembali memulai hari dengan semangat. Biarkan luka itu menempa dirimu menjadi kuat, menjadi tegar, menjadi tangguh.

Wednesday, August 16, 2006

KaLa RinDu MeLanDa

Ku Tak tau mengapa...
Otakku penuh dengan wajahmu...
Tak bisa kuhapus meski sedetik...

Mungkinkah.....
Rinduku padamu sudah membatu
Hingga tak bisa cair tanpa hadirmu

Tapi...
Mungkinkah dirimu merasakan yang aku rasakan...
Masihkah ada bayangku di dalam hatimu...
Ataukah sudah kau lupakan diriku...

Wednesday, August 09, 2006

Aku harus pergi

Aku harus pergi.
membawa keping hati dalam genggamanku
meringkuk takut,
bersembunyi diantara kuncup bunga
yang basah oleh embun
Namun mentari menyapa alam
kuncup-kuncup bunga pun mekar

Aku harus pergi .
berlari lebih kencang,
menyembunyikan hati,
sampai ke dasar laut sekalipun!

dan ketika kuratakan genggaman ini,
hatiku tidak ada disana.

Ijinkan. . .....

Tak habis kumengerti,
kenapa belenggu ini masih erat di sini,
sedang semua telah beralu dari hidupku,
mestinya aku insan merdeka,
memberi hati dan cinta lagi,
karena kau tidak lagi di sini bersamaku,
tapi belenggu ini,
makin erat mengikat,
memasungku dalam cinta tak berkesudahan,
air mata tak cukup memutuskannya,
amarahpun hanya akan sia-sia,
cintaku yang ku katakan putih,
membuatkan hitam pekat langitku,
mengunci rapat senyum di bibirku.

Cinta putihku,
ijinkan kumelihat matahari pagi,
pergilah kau dari hati,
jangan pernah kembali jika tangis yang kau bawa,
bahagiaku hanya malam-malam panjang sepi tanpamu,
tanpa mimpi-mimpi indah,
yang lenyap ketika hidup ini bangun dipagi hari.

Cinta putihku,
biarkan kumenangis mengenangmu 'ntuk terakhir kali,
ijinkan kutidur,
tanpa kau datang dimimpi malam ini....

Ketika kamu datang

Ketika kamu datang,
dan mengulurkan tangan untuk menarikku
aku tidak lagi menoleh ke belakang.

Ketika kamu datang,
dan mencuri sesuatu dari genggamanku,
aku tidak lagi terlelap.

Kamu memang telah datang,
hadir...., ada dan bertahta dalam hatiku.

Katakan padaku bagaimana mengusirmu,
karena perasaan ini melimbungkanku
dalam ketidakpastian yang lagi-lagi..
menyiksaku....

Mimpi Takkan Berakhir

kubelum menemukan mimpiku, dalam sebuah pengembaraanku
hingga kubelum ingin mengakhiri hidupku dengan sia sia..
belum ingin kuakhiri perjuanganku mendapatkan impianku..

hingga kini mimpi dan impianku masih ada bersamamu..
gadis yang paling kucintai..
engkau adlah mimpiku sekaligus pengembaraanku..
takkan kubiarkan jiwaku sia sia untuk menghentikan langkahku mengejarmu..
selalu kuberharap engkau masih mempunyai jiwa seperti dahulu..

saat dengan bangga kukatakan pada dunia engkau adalah impianku
dengan tinggi ku angkat namamu diantara sanak familiku...
dan dengan sombong ku sebut namamu diantara kerabat-kerabatku..

hingga kinipun namamu masih berada di paling atas
namamu berada di ketinggian
engkau adalah gadisku...

Terbayang Semua KenangaN




















malam ini teringat lagi
semua kenangan
yg tlah kulalui
bersamamu

hangat pelukmu
yg selalu kurindu
di dalam hari-hariku
yg tlah lalu

akankah tinggal kenangan untukku
hari-hariku bersamamu
ingin ku lupakan semua tentangmu
namun ku tak kuasa
hapus segalanya dari hatiku

sabtu malam lagi ku nikmati sendiri
hadirkan bayangmu kembali
takkan ku lupa kau lah satu yg ku simpan
di hatiku sampai kini

di dalam ku
sendiri kini
terbayang semua kenangan
tentangmu bersamaku

hangat pelukmu
yg selalu kurindu
di dalam hari-hariku
yg tlah lalu

Mencari Jawaban ???


Aku tak pernah bisa melupakannya
entah mengapa?
apa yang membuatku sulit melupakannya?
wajahnya? atau senyum termanisnya?
aku tetap tak mengerti

aku masih mencari jawaban
atas segala tanyaku ini
namun, hingga kini
aku tetap tak menemukannya
dimana jawaban itu?!

bahkan setelah dia pergi
aku tetap tak menemukannya!
sekali lagi aku bertanya,
di mana jawaban itu?!

ku tetap mencari,
dan menanti.......
diman jawaban itu?..............

Aku Menunggumu Di Tepi Hatiku

duduk diam merenung, bingung dan tak tau apapun.
semua harapan keseriusan tlah hilang
hanya dalam sekelebat mata memandang.

seharusnya, cinta sepenuhnya bisa terjadi
karna tlah lama bersemi
walau sempat terjadi suatu ketakutan

lari dan berpaling saat mata terdiam
diam saat mata memandang
pengkhianatan terus terjadi saat terdiam

terjadi begitu saja, hilang dalam kata kata
hanya berbekas di segumpal hati
rintihan dan teriakan terdengar kencang sekali

janji, walau hanya sebuah rangkaian kata kata
bermakna lebih dari emas permata
semua dikhianati
semua dilanggar
semua, semua, semua
kepercayaan yang ada kini
patut diragukan keberadaannya

sampai detik ini,
masih diam terpaku
tak percaya yang tlah dialami
tak percaya yang tlah didengar

pukul 12.11 Siang
saat sebagian tubuh meronta ronta
untuk diisi segumpal makanan
dan saat hati meronta ronta
setelah dikhianati

Tuesday, August 08, 2006

KamaR

Dinding-dinding kamar menatapku lirih,
mereka mungkin turut berduka, tertunduk dan menangisiku.
Di kamar ini pernah kuteteskan air mata, menetes perlahan,
hingga aku pun tenggelam didalamnya.

Di kamar ini, masih tersisa baris-baris luka yang menganga,
perih saat malam tiba.
Di kamar ini pernah juga ku tumpahkan seluruh rasa cinta pada nya hingga kita letih bermandikan peluh...

Bekas suara langkah mu masih tersisa di kamar ini.
Rambut yang berterbangan itu menghiasi lantai kamar yang berdebu.
Kasur ini pernah kau rebahi hingga langit-langit kamarku birahi.
Suara mendesah itu masih jelas terdengar dan memantul pada dinding kamar dan menikamku perlahan...

Jiwa ini mata air mu,
maka jangan pernah takut karena haus mu.
Mata ini adalah matahari mu,
maka pandangilah aku saat gelap datang.
Bibir ini adalah cinta mu,
maka tersenyumlah padaku...

semoga kala mengucap salam
selamat tinggal pada masa silam
lalu akan ada terbarui
dari jiwa yang hampir mati

Sunday, August 06, 2006

5 Jam Setelah Keberangkatanmu



Entah apa yg t`lah ku rasa ini , bingung dan tak tahu apapun .., kenapa ku biarkan luka lama kembali terbuka dan menganga ? bahkan lebih perih dan pedih dari yg sudah². sebuah kata yg terucap dari
"dia"

sebuah kata "SIAPA CEPAT PASTI DAPAT" begitu deras dan tajam merobek , menyayat.., seakan memberi motivasi yg kuat .., dan bahkan memberi peringatan bahwa ku mungkin tak bisa mendapatkannyaa ..,

bukan.., bukanlah itu yg ada pada dirinya..., Akupun tak ingin
"dia"
menjadi sebuah piala yg di perebutkan .., yg selalu di banggakan bila tlah meraihnya .., meski dengan berbagai cara tuk bisa mendapatkan "dia"..,entah curang,entah saling menjegal, entah di campur Es jeruk, tomat, kacang, slada, kedelai, saos, kecap, selai dan berbagai cara entah dan entah ..demi mendapatkan sebuah piala .,ya...
"dia"

dan hanya
"dia"

kenapa aku masih menunggunya ? walau aku dalam nomor urut yg ke sekian ribu dari sekian banyak yg ingin merebutnya .., aku tak ingin
"dia"

di perebutkan ,tak ingin
"dia"
di miliki mereka .., ... tapi .... kenapa ...dan di mana semua diriku yg sesungguhnya ? haruskah ku mengorbankan segalanya ? walau harga diri ku pertaruhkan ?

tak ada optimisme , tak ada pesimisme ..., aku hanya terdiam terpaku melihat
"dia"

namun..,ku masih bahagia, setelah sekian lama ku menanti .., ku menunggu ,akhirnya terucap juga dari bibirnya .., sebuah kata "AYAH" !!!
mungkin hati ini tak pernah bisa berbohong , meski sekian lama
"dia"
sakiti .., tetap ku menunggu dan terus menunggu ..., resah dalam gelisah .., menuju punah jasad dalam tanah .. entahlah ......
dan bila
"dia"

mau tuk menjalani semua bersama , kembali dan memulai melupakan segala naif dan ego yg pernah ada .., ku kan berjanji tuk bisa menjadi seorang "AYAH" yg sesungguhnya
, apakah bisa ..... ???
"ENTAHLAH"