Monday, June 30, 2008

Mencintaimu... sebuah Kesalahan ???

……….. apa yang kita lihat terkadang hanya merupakan bayangan semu dari apa yang kita rasakan, dan apa yang kita rasakan terkadang hanya merupakan angan-angan kosong dari apa yang kita khayalkan, sementara apa yang kita khayalkan, terkadang merupakan belenggu yang tertanam dalam hati dan jiwa kita yang bebas ……………………

Enam bulan aku menghabiskan waktu disini, sebuah daerah yang banyak membuat satu perubahan yang cukup besar dalam hidupku. Suatu waktu yang entah bisa dikatakan sebentar atau lama, untuk melihat suatu nuansa baru yang mungkin tidak semua orang mempunyai satu persepsi yang sama dalam cara melihat, memandang, merasakan dan mengintepretasikan semuanya. Enam bulan lamanya aku mencoba untuk mengais-ais arti salah satu episode dari kehidupanku yang entah akan mempunyai makna di masa mendatang atau tidak.

Ada banyak torehan duka dan suka selama aku berada ditempat ini. Ada banyak tangis dan canda bertebaran di dalamnya. Ada banyak amarah dan nestapa mengisi hari-harinya. Dan ada banyak asa dan nelangsa tercipta mengiringi detik-detiknya.
Teramat ingin aku untuk mengungkapkan semuanya lewat kata-kata, dengan menuliskan rangkaian kalimat hingga dapat membuat suatu tulisan yang dapat menggambarkan seluruh hal yang kurasakan, kualami, kulihat dan kujalani selama ini. Namun aku merasa begitu susah, begitu sulit untuk menuangkan semuanya dalam suatu aksara yang dapat memberikan kejelasan tentang semua yang kuinginkan. Dan memang sulit sekali aku untuk melakukannya.
Entah terlalu banyak yang ingin kuungkapkan kah… atau terlalu sedikit yang bisa terceritakan….. semua serba tidak menentu jawabannya. Mungkin inilah alasan mengapa semua tidak dapat tertuangkan menjadi suatu cerita, prosa yang dapat mencakup dan merangkum segalanya.
Hidup yang kualami disini terkadang datar tanpa adanya suatu gejolak yang membawaku naik ke atas membentuk suatu gelombang naik, ataupun suatu jurang curam yang membawaku turun atau bahkan terpuruk.

Namun terkadang tebing ataupun palung menjadi bagian dari menit-menit yang kualami disini. Terkadang aku dapat menaklukkan tantangan tebing itu dengan sangat mudahnya, tapi tak jarang aku harus jatuh terguling dalam curamnya jurang yang menghempaskan semua kehidupanku saat itu.
Salah satu palung yang akan mungkin akan tetap membekas bagiku adalah saat aku bertemu dengannya. Seseorang yang dapat membuatku tersenyum apabila mengingat ulasan sumringah pada bibir merahnya, membuatku tertawa saat mengingat bahaknya, membuatku merasa sedih bila melihat airmatanya, membuatku letih saat melihat lelah wajahnya…… dan membuatku miris apabila mengingatnya.
Tidak ada yang istimewa dari dirinya, tidak ada sesuatu yang lebih yang dapat membuat dunia ini berhenti untuk berputar. Namun duniaku cukup bisa berhenti pada saat pertama aku melihat senyumnya. Senyum yang begitu cepat menghilang seiring berputarnya laju roda kendaraan yang membawanya entah kemana. Begitu ingin aku mendapatkan lebih lama lagi senyum itu, seiring tak berjalannya alamku saat melihatnya. Namun aku tak mampu untuk mengikutinya, karena ternyata kenyataan memaksaku untuk kembali menyusuri jalan nyata yang harus kujalani hari itu.
Selang waktu yang berlalu setelah “one simple glance from you”, aku masih terus mencari dimana aku bisa menemukannya lagi, someone who give me a first smile when I’m trying to be nice to someone around me without any reason. Tetapi bukankah tidak semua keinginan harus terwujud atau menjadi nyata saat itu juga.

Enam bulan aku disini, aku lalui kembali untuk menggenapkan langkah dan pijakkan kakiku di bumi ini. Mencoba mencari makna hidup dan terkadang perih yang telah lama ada di hati. Hmm …… perih, sakit, pedih, luka yang terkadang kupikir telah sembuh, namun ternyata ia diam menahun dan menanamkan bibit-bibit duka yang suatu saat seolah menutupi diriku dari indahnya kenyataan. Terkadang membuat ketakutan semu pada diri yang membuat surut kaki untuk kembali melangkah, dan terkadang memaksaku untuk menutup jendela jiwa yang seharusnya sudah mulai kembali kubuka guna mendapatkan sinar cinta yang mungkin bisa mengusir pengapnya ruang hatiku yang sudah mengelabu.
Pada saat tertentu, aku merindukan semua panggilan cinta yang kulihat menggapai di luar sana mengajakku untuk merasakan sedikit manis dan indahnya harmonisasi dua insan tuk memadu kasih. Kadang datang keinginan hati untuk menyambut genggaman tangan nada untuk kembali untuk menyanyikan bersama seseorang gita asmara yang mungkin akan kembali memberikan kecerahan baru dalam gelapnya hari yang kujalani selama ini. Hmmm……. Lima tahun, five “fishing” years I passed it just to heal my wound. Aku juga gak tahu, apakah selama itu aku mencoba untuk mengobati luka apa selama itu aku sudah menjadi seorang pengecut untuk memulai suatu hal yang terkadang bagiku mirip dengan perjudian dimana aku mempertaruhkan hati dan perasaanku. Ataukah memang itulah jawaban atas pertanyaan ada apa dengan lima tahunku……..
Enam bulan sudah kurasakan mentari di tempat ini merambati dan memberi kehangatan yang berbeda pada diriku, khususnya setelah aku kehilangan senyuman itu. Duhai kau yang telah memberikan senyuman pada jiwaku yang murung…… dimana kau berada ???????
……………..

Saturday, June 21, 2008

Berkat atau Kutuk

Pernah ada seorang tua yang hidup di desa kecil. Meskipun ia miskin, semua orang cemburu kepadanya karena ia memiliki kuda putih cantik. Bahkan raja menginginkan hartanya itu. Kuda seperti itu belum pernah di lihat begitu kemegahannya, keagungannya dan kekuatannya. Orang menawarkan harga amat tinggi untuk kuda jantan itu, tetapi orang tua itu selalu menolak, "Kuda ini bukan kuda bagi saya," ia akan mengatakan.
"Ia adalah seperti seseorang. Bagaimana kita dapat menjual seseorang. Ia adalah sahabat bukan milik. Bagaimana kita dapat menjual seorang sahabat".
Orang itu miskin dan godaan besar. Tetapi ia tetap tidak menjual kuda itu.

Suatu pagi ia menemukan bahwa kuda itu tidak ada di kandangnya. Seluruh desa datang menemuinya. "Orang tua bodoh," mereka mengejek dia "sudah kami katakan bahwa seseorang akan mencuri kudamu. Kami sudah peringatkan bahwa kamu akan di rampok. Anda begitu miskin. Mana mungkin anda dapat melindungi binatang yang begitu berharga? Sebaiknya anda sudah menjualnya. Anda boleh minta harga apa saja. Harga setinggi apapun akan di bayar juga. Sekarang kuda itu hilang dan anda dikutuk oleh kemalangan".
Orang tua itu menjawab, "Jangan bicara terlalu cepat. Katakan saja bahwa kuda itu tidak berada di kandangnya. Itu saja yang kita tahu; selebihnya adalah penilaian. Apakah saya di kutuk atau tidak, bagaimana Anda dapat ketahui itu? Bagaimana Anda dapat menghakimi?"
Orang protes, "Jangan menggambarkan kita sebagai orang bodoh! Mungkin kita bukan ahli filsafat, tetapi filsafat hebat tidak di perlukan. Fakta sederhana bahwa kudamu hilang adalah kutukan".
Orang tua itu berbicara lagi, "Yang saya tahu hanyalah bahwa kandang itu kosong dan kuda itu pergi. Selebihnya saya tidak tahu. Apakah itu kutukan atau berkat, saya tidak dapat katakan.
Yang dapat kita lihat hanyalah sepotong saja. Siapa tahu apa yang akan terjadi nanti?"

Orang-orang desa tertawa. Menurut mereka orang itu gila. Mereka memang selalu menganggap dia orang tolol; kalau tidak, ia akan menjual kuda itu dan hidup dari uang yang diterimanya. Sebaliknya, ia seorang tukang potong kayu miskin, orang tua yang memotong kayu bakar dan menariknya keluar hutan lalu menjualnya. Uang yang ia terima hanya cukup untuk membeli makanan, tidak lebih. Hidupnya sengsara sekali. Sekarang ia sudah membuktikan bahwa ia betul-betul tolol.

Sesudah lima belas hari, kuda itu kembali. Ia tidak dicuri, ia lari ke dalam hutan. Ia tidak hanya kembali, ia juga membawa sekitar selusin kuda liar bersamanya. Sekali lagi penduduk desa berkumpul di sekeliling tukang potong kayu itu dan mengatakan, "Orang tua, kamu benar dan kami salah. Yang kami anggap kutukan sebenarnya berkat. Maafkan kami".
Jawab orang itu, "Sekali lagi kalian bertindak gegabah. Katakan saja bahwa kuda itu sudah balik. Katakan saja bahwa selusin kuda balik bersama dia, tetapi jangan menilai. Bagaimana kalian tahu bahwa ini adalah berkat? Anda hanya melihat sepotong saja. Kecuali kalau kalian sudah mengetahui seluruh cerita,bagaimana anda dapat menilai? Kalian hanya membaca satu halaman
dari sebuah buku. Dapatkah kalian menilai seluruh buku? Kalian hanya membaca satu kata dari sebuah ungkapan. Apakah kalian dapat mengerti seluruh ungkapan? Hidup ini begitu luas, namun Anda menilai seluruh hidup berdasarkan satu halaman atau satu kata. Yang anda tahu hanyalah sepotong ! Jangan katakan itu adalah berkat. Tidak ada yang tahu. Saya sudah puas dengan apa yang saya tahu. Saya tidak terganggu karena apa yang saya tidak tahu".
"Barangkali orang tua itu benar," mereka berkata satu kepada yang lain. Jadi mereka tidak banyak berkata-kata.

Tetapi di dalam hati mereka tahu bahwa ia salah. Mereka tahu itu adalah berkat. Dua belas kuda liar pulang bersama satu kuda. Dengan kerja sedikit, binatang itu dapat dijinakkan dan dilatih, kemudian dijual untuk banyak uang. Orang tua itu mempunyai seorang anak laki-laki. Anak muda itu mulai menjinakkan kuda-kuda liar itu.
Setelah beberapa hari, ia terjatuh dari salah satu kuda dan kedua kakinya patah. Sekali lagi orang desa berkumpul sekitar orang tua itu dan menilai. "Kamu benar," kata mereka, "Kamu sudah buktikan bahwa kamu benar. Selusin kuda itu bukan berkat. Mereka adalah kutukan. Satu-satunya puteramu patah kedua kakinya dan sekarang dalam usia tuamu kamu tidak ada siapa-siapa untuk membantumu. Sekarang kamu lebih miskin lagi".
Orang tua itu berbicara lagi, "Ya, kalian kesetanan dengan pikiran untuk menilai, menghakimi. Jangan keterlaluan. Katakan saja bahwa anak saya patah kaki. Siapa tahu itu berkat atau kutukan? Tidak ada yang tahu. Kita hanya mempunyai sepotong cerita. Hidup ini datang sepotong-sepotong".

Maka terjadilah 2 minggu kemudian negeri itu berperang dengan negeri tetangga. Semua anak muda di desa diminta untuk menjadi tentara. Hanya anak si orang tua tidak diminta karena ia sedang terluka.
Sekali lagi orang berkumpul sekitar orang tua itu sambil menangis dan berteriak karena anak-anak mereka sudah dipanggil untuk bertempur. Sedikit sekali kemungkinan mereka akan kembali. Musuh sangat kuat dan perang itu akan dimenangkan musuh. Mereka mungkin tidak akan melihat anak-anak mereka kembali.
"Kamu benar, orang tua," mereka menangis, "Tuhan tahu kamu benar. Ini membuktikannya.
Kecelakaan anakmu merupakan berkat. Kakinya patah, tetapi paling tidak ia ada bersamamu. Anak-anak kami pergi untuk selama-lamanya".
Orang tua itu berbicara lagi, "Tidak mungkin untuk berbicara dengan kalian. Kalian selalu menarik kesimpulan. Tidak ada yang tahu. Katakan hanya ini: anak-anak kalian harus pergi berperang, dan anak saya tidak.
Tidak ada yang tahu apakah itu berkat atau kutukan. Tidak ada yang cukup bijaksana untuk mengetahui. Hanya Tuhan yang tahu." * * * *

Orang tua itu benar.
Kita hanya tahu sepotong dari seluruh kejadian.
Kecelakaan-kecelakaan dan kengerian hidup ini hanya merupakan satu halaman dari buku besar.
Kita jangan terlalu cepat menarik kesimpulan.
Kita harus simpan dulu penilaian kita dari badai-badai kehidupan sampai kita ketahui seluruh cerita.

Everything happens for a reason, we just have to wait out the why.

Wednesday, June 11, 2008

W A K T U

Tak seorang pun tahu kapan "WAKTU" mulai bergerak
Dan entah kapan sang "WAKTU" berhemti berjalan
Yang pasti sampai detik ini "DIA" terus bergerak dan terus bergulir
Entah Anda menghargai "WAKTU" dengan memanfaatkan sebaik-baiknya
Atau selalu menyia-nyiakan "WAKTU" dengan aktivitas yang tidak bermanfaat
"DIA" tetap diam dan terus berjalan tanpa memihak kepada siapa pun
Tanpa membantu siapa pun
Tetapi "DIA" bernilai untuk siapa pun
"DIA" tidak pernah kalah dan tidak akan usang
"DIA" selalu baru, selalu segar dan tegar

Hanya kitalah sebagai manusia
Lambat atau cepat pasti akan termakan oleh proses sang "WAKTU"
"WAKTU" untuk kehidupan seorang anak manusia
Tidak lama dan sangat terbatas
Maka sepantasnya harus kita isi kehidupan ini
Dengan "PRODUKTIVITAS" yang sangat bermanfaat
Baik bagi diri pribadi dan bagi manusia-manusia lainnya

Kesadaran akan "NILAI WAKTU" harus selalu diingatkan
Dipelihara dengan rasa syukur yang besar terhadap "SANG PENCIPTA"
Dengan demikian kita akan menghargai nilai keberadaan "SANG WAKTU"
Dan nilai-nilai diri kita sebagai manusia sehingga kita akan
Selalu berusaha untuk dapat menikmati "PROSES WAKTU" itu
Dengan kualitas kehidupan yang makin lama makin indah
Nikmat, bahagia dan sangat berarti

Nikmati "WAKTU"mu yang masih ada...!!!
Hargai "WAKTU"mu yang masih tersisa...!!!

Salam Sukses Luar Biasa...!!!

di ambil dari Andrie Wongso

Wednesday, June 04, 2008

KELINCI SI PENAKUT

Kelinci memang dari dulu terkenal sebagai hewan yang bernyali kecil, sering ketakutan tanpa alasan yang jelas, sesegera mungkin menyingkir bila dia merasa terganggu keamanannya.

Suatu hari, terlihat sekelompok kelinci sedang berkumpul di tepi sebuah sungai, mereka sibuk berkeluh kesah meratapi nyalinya yang kecil, mengeluh kehidupan mereka yang senantiasa dibayangi dengan mara bahaya. Semakin mereka ngobrol, semakin sedih dan ketakutan memikirkan nasib mereka.

Alangkah malangnya lahir menjadi seekor kelinci. Mau lebih kuat tidak punya tenaga, ingin terbang ke langit biru tidak punya sayap, setiap hari ketakutan melulu. Mau tidur nyenyak pun sulit karena terganggu oleh telinga panjang yang tajam pendengarannya sehingga matanya yang berwarna merah pun semakin lama semakin merah saja.

Mereka merasa hidup ini tidak ada artinya. Daripada hidup menderita ketakutan terus, mereka berpikir lebih baik mati saja. Akhirnya mereka mengambil keputusan beramai-ramai hendak bunuh diri dengan melompat dari tepian tebing yang tinggi dan curam. Maka para kelinci terlihat berbondong-bondong menuju ke arah tebing.

Saat mereka melewati pinggir sungai, ada seekor katak yang terkejut melihat kedatangan kelinci yang berjumlah banyak. Tergesa-gesa si katak ketakutan dan segera meloncat ke sungai melarikan diri.

Walaupun si kelinci sering menjumpai katak yang melompat ketakutan saat melihat kelinci melintas, tetapi sebelum ini mereka tidak peduli. Berbeda untuk kali ini. Tiba-tiba ada seekor kelinci yang tersadar dari kesedihannya dan langsung berteriak, "Hei, berhenti! Kita tidak usah ketakutan sampai perlu harus bunuh diri. Karena lihatlah, ternyata ada hewan lain yang lebih tidak bernyali dibandingkan kita yakni si katak yang terbirit-birit saat melihat kita!”

Mendengar kata-kata itu, kelinci yang lain tiba-tiba pikiran dan hatinya terbuka, seolah-olah tumbuh tunas keberanian di hati mereka. Maka dengan riang gembira mereka mulai saling membesarkan diri masing-masing, "Iya, kita tidak perlu ketakutan!"

"Tuh kan, ada mahluk lain yang lebih pengecut dari kita."

"Iya, kita harus semakin berani."

Perlahan-lahan mereka berbalik arah kembali kearah pulang dengan riang gembira dan melupakan niatnya untuk bunuh diri.

Pembaca yang budiman,
Saat keberuntungan sedang tidak memihak kepada kita, jangan suka meratapi nasib yang dirundung malang seakan-akan hanya kitalah mahluk paling menderita di muka bumi ini. Lihatlah di sekeliling kita. Masih begitu banyak orang yang lebih susah, sengsara, dan sial dibandingkan kita. Jika mereka yang hidup dalam kekurangan tetapi mampu menjalaninya dengan tegar dan tetap berjuang, kenapa kita tidak?

Apa pun keadaan kehidupan kita hari, seharusnya kita jalani dengan optimis dan aktif. Nasib tidak akan dapat kita ubah tanpa manusia itu sendiri yang siap mengubahnya. Karena sesungguhnya, ‘sukses adalah hak setiap orang'. Success is my right, sukses adalah hak siapa saja yang mau berjuang dengan sungguh-sungguh.

Sukses = Kerja Keras

Kata sukses , terdiri dari huruf Chéng yang artinya pencapaian, dan huruf Gōng yang artinya hasil. Kalau kita melihat lebih jauh konstruksi huruf Gōng, maka akan ditemukan komponen huruf yang artinya "kerja" (工 gong) , ditambah komponen huruf yang artinya "tenaga/berupaya sekuat tenaga" (力 li).

Jadi dapat disimpulkan sukses tidak datang dari dunia yang lain, tetapi pencapaian atau hasil dari kerja dengan sekuat tenaga, atau bekerja lebih ("Kerja Keras"). Mereka masih mau bekerja walaupun diluar jam kerja kantor. Mereka masih mau bekerja walaupun yang lainnya sudah berhenti. Mereka masih mau bekerja walaupun........

Simak pendapat dan pandangan mereka tentang kerja keras!

  • Ketika Tiger Woods ditanya strategi apa yang digunakan sehingga ia sukses sebagai seorang pemain golf profesional? Dengan rendah hati ia mengatakan, "Saya hanya menggunakan waktu lebih banyak. Ketika yang lainnya belum bangun, saya sudah bangun untuk latihan. Ketika yang lainnya sudah istirahat, saya masih melanjutkan latihan."
  • Hasil penelitian Dr. Thomas Stanley dari University of Georgia menemukan pola yang sama untuk setiap orang-orang yang sukses yaitu "kerja keras". Mereka bekerja 12 s/d 14 jam seharinya. Menurutnya tidak ada seorang pun bisa mencapai potensi yang maksimum dengan melakukan yang minimum.
  • Menurut ketua Umum Nahdlatul Ulama KH Hasyim Muzadi, yang saya kutip dari majalah Gontor edisi 12 mengatakan orang China adalah bangsa yang mempunyai etos kerja tinggi. Bayangkan mereka bersedia bekerja 11 jam. Menurutnya lagi, padahal banyak orang yang hanya bekerja 8 jam sehari saja sudah keberatan.
Bekerja keras tidak salah, yang salah adalah bekerja keras yang tidak efisien dan efektif, tidak mempunyai arah, sasaran dan fokus yang jelas, serta tidak mempunyai perencanaan/ persiapan yang baik (Saya akan memberikan contoh kisah bekerja keras yang tidak benar, sehingga menyia-nyiakan waktu, tenaga, pikiran pada posting berikutnya).

Oleh sebab itu, mulailah bekerja dengan lebih keras, lebih ulet tekun serta pantang menyerah dalam mencapai tujuan dan cita-cita Anda.

Salam Sukses Untuk Anda

Nilai Sebuah Kepercayaan

Dikisahkan, ada seorang pemuda yang dulunya hanya seorang office boy di sebuah perusahaan Jepang, tetapi sekarang ia telah berhasil menjadi seorang pengusaha sukses di bidang jasa.

Saat ditanya, bagaimana itu bisa terjadi, si pengusaha bercerita sambil bernostalgia. "Sebenarnya, pendidikan saya hanya SMP saja, itupun lulusan dari kampung. Saat diterima kerja sebagai pesuruh di kota besar ini, saya sangat senang sekali. Kata teman-teman di kantor, saya selalu bersemangat, murah senyum, dan siap membantu siapa saja yang memerlukannya. Bahkan bekerja lembur dan tidur di kantor pun, saya jalani dengan senang.

Tugas, yang pada mulanya hanya sebatas pesuruh, mengantar ini mengantar itu, menyediakan minuman, menyusun file-file, suatu hari meningkat menjadi pembantu adiministrasi saat ada anak kantor yang mengalami musibah dan tidak dapat menyelesaikan tugasnya, saya belajar mati-matian menggunakan komputer untuk membantunya mengetik.

Bos saya orang Jepang. Dan saya lah yang paling sering berada di ruangan bos, membantu dan menemaninya bekerja hingga malam hari. Perintah-perintah bos diucapkan dalam bahasa Jepang.

Pada awalnya saya tidak mengerti sama sekali. Dan, dari sanalah saya terpacu untuk belajar berbahasa Jepang. Karyawan dari Jepang yang bekerja di situ, sangat menghargai siapapun yang mau belajar bahasa mereka. Setiap hari, mereka mengajari sambil mentertawakan kebodohan saya jika salah dalam berucap kata. Oleh-oleh yang dibawa dari Jepang adalah buku-buku berbahasa Jepang yang saya minta.

Kira-kira empat tahun kemudian, tugas saya pun mengalami perubahan. Walaupun Tetap membantu serabutan, tetapi naik kelas menjadi asisten administrasi penghubung. Setiap ada tamu dari negeri sakura datang, saya yang menemani mereka menjadi penterjemah. Lama-kelamaan, saya dipercayai mengurus banyak hal, menghadap pejabat, menyampaikan pesan-pesan penting antar departemen dan sebagainya.

Sekian tahun kemudian, atas persetujuan dan bantuan Bos dan kepercayaan yang telah terbentuk selama ini, saya meminta izin untuk mengundurkan dan memulai usaha sendiri di bidang jasa, yakni mengurus berbagai perijinan hingga rekruting karyawan, khususnya untuk perusahaan Jepang yang hendak berinvestasi di Indonesia.

Bisnis saya bisa berkembang pesat seperti sekarang ini, tentu saja saya bersyukur atas semua ini, dan tetap belajar segala sesuatu agar bisnis saya terus berkembang dan berkembang.

Pembaca yang budiman,

Sebuah contoh proses perjuangan dari seorang karyawan yang biasa-biasa saja, sampai akhirnya bisa membangun usahanya sendiri dan sukses, namun semua itu tidak dia bangun dengan cara yang instan. Semasa masih menjadi karyawan, dia mau bekerja keras, jujur, dapat dipercaya, penuh tanggung jawab, dan mau belajar sesuatu yang baru serta pandai menempatkan diri sehingga kualitas karakternya yang positif itulah yang merubah nasibnya.

Sama halnya jika kita ingin berhasil. Mari kita mulai dari dimana kita berada saat ini. Belajar dan bekerja dengan sungguh-sungguh, mampu menjaga sekecil apapun kepercayaan yang diberikan.

Begitu integritas kita terbangun, maka apapun yang kita tekuni, lambat atau cepat pasti akan mendapat tempat dan pasti kesuksesan demi kesuksesan akan segera datang menyusul.



di comot dari Millis pak Andriewongso